Manfaat Menziarahi Kubur Nabi SAW
2023-08-12 22:53:35
1. Kitab Talkhis Al-Habir Fi Takhriji Ahaditsi Ar Raf’il Kabir, karya Ibn Hajar Al-Asqolani yang bermazhab Syaf’i, Jilid 2 Halaman 570, Terbitan Dar al-
Diriwayatkan dari Anas bin Malik, Rasulullah saw bersabda: "Barangsiapa yang MENZIARAHIKU di Madinah dengan mengharapkan pahala dari Allah Swt, aku akan memberi syafaat dan menjadi saksi baginya di hari kiamat".
Ibn Hajar berkata: "Ibn Hibban dan Daruquthni telah menilai Sulaiman sebagai sosok yang Dho'if (lemah)…Jalur-jalur periwayatan ini, semuanya dho'if namun Abu Ali bin Sakan menilai hadis ini Shahih melalui hadis dari Ibn Umar yang terdapat dalam kitabnya yaitu Shihah Ibn Sakan, demikian pula Abdul Haq dengan diamnya beliau (tidak mengomentari) dalam kitabnya al-Ahkam (menunjukan hadis ini shahih), begitu pula Syaikh Taqiyyudin as-Subki (menshahihkan) karena banyaknya jalur periwayatan"
Satu hal yang harus diketahui, bahwa hadis dho'if dapat menjadi kuat dan bisa dipakai menjadi hujjah jika banyak jalur periwayatannya dan redaksi serupa, sehingga hadis tersebut dinamakan hasan lighairihi. Hal ini sebagaimana yang dinyatakan al-Utsaimin dalam kitabnya:
.
Kitab Musthalah al-Hadis karya Muhammad ibn Shaleh al-Utsamin seorang ulama Wahabi, halaman 11:
Al-Utsaimin berkata: "Hadis hasan lighairihi adalah hadis dho'if (lemah), jikalau banyak jalur periwayatannya"
Inilah Riwayat yang merupakan sanggahan bagi mereka yang selalu mengharamkan kaum muslimin untuk berziarah ke kubur Nabi saw, sedangkan Rasulullah saw sendiri menjanjikan syafaat bagi siapa saja yang menziarahinya.
2. Kitab Siyar A’lam Al-Nubala karya Al-Dzahabi Jilid 5 Halaman 287, Terbitan Dar al-Hadis Kairo Cetakan tahun 2006M /1427H
Dzahabi berkata: "Barang siapa yang berdiri disisi kamar yang suci (makam Rasulullah saw) dengan merendahkan diri dan seraya mengucapkan salam dan bersholawat kepada Nabi-nya, alangkah bahagianya dia, sungguh dia telah melakukan sebaik-baik ziarah dan juga dia telah melakukan sebaik-baiknya perendahan diri dan kecintaan…. maka dia telah melakukan ibadah tambahan dibandingkan orang yang sekedar bersholawat kepada beliau saw di negerinya atau dalam shalatnya".
Ibadah tambahan tersebut juga didapatkan bagi seseorang yang mengucapkan sholawat didalam sholatnya karena hal itu dilakukan dihadapan kubur Nabi saw Jadi menurut imam dzahabi sholawat dihadapan makam, apakah ini bukan suatu keutamaan bagi para peziarah Nabi saw?
Kemudian dzahabi berkata:"Bahwasannya orang yang menziarahi beliau saw dia mendapatkan pahala ziarah dan pahala sholawat kepada Rasulullah saw dan orang yang bersholawat di negerinya sendiri dia hanya mendapatkan pahala sholawatnya saja, barang siapa yang bersholawat kepada Rasulullah saw satu kali, Allah akan memberikan rahmat kepadanya 10 kali, akan tetapi barang siapa yang menziarahi beliau saw dengan cara yang tidak baik atau sujud kepada kubur saw atau mengerjakan apa-apa yang tidak disyariatkan dalam Islam maka dia telah mengerjakan kebaikan dan keburukan, hendaknya dia diberi tahu dengan lemah lembut (bukan secara kasar) sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Penyayang.
Demi Allah apa-apa yang didapati dari kegelisahan seorang muslim dan berteriak didepan kubur Nabi saw dan mencium dindingnya serta banyak menangis didepannya melainkan semua itu karena kecintaannya kepada Allah swt dan Rasul-Nya dan kecintaan ini merupakan tolok ukur dan juga pembeda antara penghuni surga dan penghuni neraka, maka ziarah ke kubur beliau saw adalah SEBAIK-BAIKNYA CARA MENDEKATKAN DIRI (kepada Allah swt). Adapun menempuh perjalanan menuju kubur para Nabi dan para wali, jikalau atau seandainya kita menerima bahwa hal tersebut tidak diizinkan untuk dilakukan secara umum karena pernyataan beliau saw: jangan kalian bepergian kecuali kepada tiga masjid"
Bahwasannya bepergian menuju makam Nabi kita saw dengan sendirinya pergi ke Masjid beliau saw dan hal tersebut DISYARIATKAN tanpa ada pertentangan, bahwasannya tidak akan sampai kepada kubur Nabi saw kecuali setelah memasuki masjid beliau saw maka hendaknya orang yang berziarah melakukan sholat tahiyatul masjid kemudian memberi salam kepada pemiliki masjid (Rasulullah saw) semoga Allah mengaruniakan kami dan juga kalian untuk menziarahi makam Nabi saw amin".
Disini Imam Dzahabi meyakini bahwa para peziarah yang berteriak dan mencium dinding kubur Nabi saw serta banyak menangis di depannya, semua itu merupakan bentuk kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka tidak selayaknya orang-orang yang melakukan hal tersebut dikatakan musyrik, ahli bid'ah dan tuduhan yang lain.
Dan imam dzahabi pun berpendapat untuk mereka yang buruk dalam adab ziarahnya, sebaiknya diajarkan dengan lemah lembut bukan dituduh musyrik.
Kemudian disini pula imam dzahabi berpendapat bahwa menziarahi makam Nabi saw adalah hal yang paling utama untuk mendekatkan diri kepada Allah swt, dan bukan merupakan pelanggaran syariat Islam. Bagi mereka yang selalu melarang bahkan mengharamkan ziarah ke kubur Nabi saw, hendaknya membaca atau merujuk kepada pernyataan imamnya sendiri yaitu Imam Dzahabi.