Kedua Orang Tua Nabi SAW Kafir?

2023-11-04 03:11:35

1. Kitab Shahih Muslim Karya Imam Muslim Bin Hajaj, Jilid 1 Halaman 116, Tebitan Dar al-Fikr, Cetakan tahun 1992M/1412H

Telah menyampaikan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menyampaikan kepada kami Afan dari HAMMAD BIN SALAMAH dari Tsabit dari Anas bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah saw: "Wahai Rasulullah, dimanakah ayahku?" beliau saw menjawab: "dia di dalam neraka" ketika laki-laki tersebut berlalu pergi, maka beliau saw memanggilnya kembali seraya berkata: "Sesungguhnya ayahku dan ayahmu berada di dalam neraka". 

Hadis tersebut memiliki dua kecacatan, yang pertama dari sisi jalur periwayatan sebagaimana yang kita lihat disini Hammad bin Salamah dijelaskan dalam biograf Tsabit al-Banani yang tercantum dalam kitab selanjutnya: 

2. Kitab Al-Kamil Fi al-Dhuafa Al-Rijaal, Karya Ibn Adi Al-Jurjaniy yang bermazhab Syaf’i, Jilid 2 Halaman 101, Terbitan Dar al-Fikr, Cetakan Ketiga tahu

Ibn Adi Al Jurjaniy berkata: Tsabit al-Bannani adalah seorang tabi'in dari penduduk kota Basrah, dia juga merupakan orang zuhud serta periwayat hadis diantara mereka, dia telah menulis (riwayat) dari para imam dan orang-orang terpercaya, adapun sosok yang paling banyak meriwayatkan hadis darinya adalah HAMMAD BIN SALAMAH, dia adalah sosok yang terpercaya lagi jujur, hadis-hadisnya baik jika diriwayatkan oleh orang yang terpercaya. Hammad meriwayatkan banyak hadis dan dia adalah salah satu perawi yang terpercaya dari kaum muslimin. adapun kemunkaran yang terdapat didalam hadis-hadis darinya (Hammad), hal tersebut bukanlah bersumber dari Hammad melainkan berasal dari perawi yang meriwayatkan hadis darinya. KARENA BANYAK DARI PARA PERAWI YANG DHAIF DAN TIDAK DIKENAL (MAJHUL) meriwayatkan hadis darinya. Sedangkan pribadi Hammad sendiri jika meriwayatkan dari para perawi sebelumnya dari guru-gurunya, hadisnya tidak terdapat kecacatan dan dia adalah sosok yang terpercaya. 

Untuk lebih jelasnya lagi kita lihat biograf Hammad bin Salamah dalam kitab selanjutnya: 

3. Kitab Mizan al-I’tidal, Karya al-Dzahabi, jilid 2 Halaman 360 dan 363, Terbitan Dar al-Kutub Ilmiyah, Cetakan Kedua, tahun 2008M/1429H

Biografi Hammad bin Salamah

Imam Dzahabi berkata: "HAMMAD BIN SALAMAH…seorang yang terpercaya akan tetapi dia BANYAK KERAGUAN (dalam menyampaikan hadis) atau dia memiliki sangkaan-sangkaan yang lemah"

Halaman 363: Ibn Tsalji berkata: "Aku mendengar Ubad bin Shuhaib berkata: sesungguhnya Hammad TIDAK KUAT HAFALANNYA, mereka berkata bahwa kitab tulisannya telah TERSISIPI. Adapula yang mengatakan bahwa Ibn Abil Auja yang merupakan anak tirinya (Hammad) dan dialah yang telah menyisipkan sesuatu kedalam kitabnya (Hammad). 

Sekarang mari kita lihat hadis Hammad bin Salamah yang tersisipi oleh Abil Auja dalam kitab selanjutnya:

4. Kitab Al-Maudhuat, karya Ibn al-Jauziy al Qurasy yang bermazhab Hanbali, Jilid 1 Halaman 122, Terbitan Dar al-Fikr, Cetakan kedua 1983M/1403H

Telah menyampaikan kepada kami Hammad bin Salamah, telah menyampaikan kepada kami Tsabit al-Bannani dari Anas bin Malik sesungguhnya Nabi saw membacakan ayat (7:143) tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh" Nabi saw bersabda: Allah mengeluarkan kelingking-Nya diatas ibu jari maka runtuhlah gunung. Hammad bertanya kepada Tsabit al-Bannani: Apakah hadis semacam ini engkau riwayatkan? Hammad berkata: lalu dia (Tsabit) memukul dadaku, dan berkata: Anas berkata seperti itu dan Rasulullah saw juga demikian, apakah (pantas) aku menyembunyikannya?

Ibn Jauzi berkata: "Hadis ini tidak kokoh, Ibn Adi berkata: Sesungguhnya ibnu Abi Auja adalah anak tiri Hammad bin Salamah, dia MENYISIPKAN hadis-hadis semacam ini ke dalam kitab Hammad bin Salamah." 

Karena itu sangat mungkin sekali bahwa riwayat yang menyatakaan ayah Nabi saw kafir termasuk yang disisipkan oleh ibn Abil Auja ke dalam kitabnya Hammad bin Salamah. Karena itu, sudah jauh-jauh hari Rasulullah saw mengisyaratkan bahwa akan datang nanti orang-orang yang membawakan hadis beliau saw yang mana beliau tidak mengatakannya, hal ini terdapat dalam kitab selanjutnya:

5. Musnad Ahmad bin Hanbal, yang ditahqiq oleh Syu’aib Arnauth, Jilid 1 Halaman 410, hadis nomor 326, Terbitan Muassasah Al-Risalah, Cetakan kedua, tahun

Abul Ghusni Bashori berkata: "Aku berkunjung ke kota Madinah, kemudian bertemu dengan Aslam budak Umar bin al Khathab, aku berkata: "Ceritakanlah kepadaku suatu hadis yang diriwayatkan oleh Umar!". Dia berkata: "Aku tidak bisa, aku takut menambahkan atau mengurangi, karena ketika kami berkata kepada Umar: "Sampaikanlah kepada kami suatu hadis dari Rasulullah saw", maka Umar pun menjawab: "Aku takut menambah atau mengurangi walau hanya satu huruf, sebab Nabi saw berkata: "BARANG SIAPA YANG BERDUSTA ATAS NAMAKU MAKA DIA DI NERAKA". 

Syu'aib Al-Arnauth berkata: Shahih Li Ghairihi…..dan matan hadisnya mutawatir" 

Karena itu seharusnya setiap riwayat dari kitab dan perawi manapun wajib dikembalikan kepada al-Quran. Sebagaimana pedoman ini terdapat dalam kitab selanjutnya: 

6. Tafsir Fakhrurazi, oleh Imam Fakhrurrazi yang bermazhab Syaf’i, jilid 5 Halaman 45, Terbitan Dar al-fkr, Cetakan tahun 2002M/1423H

Imam Fakhrurrazi berkata: "Salah satu hadis yang terkenal sabda Rasulullah saw: "jika diriwayatkan dariku suatu hadis, maka sodorkanlah kepada al-Quran, jika sesuai maka terimalah jika tidak maka tolaklah" 

Dari kitab ini dijelaskan bahwa kita harus menyodorkan redaksi hadis dari Nabi saw kepada al-Quran oleh karena itu kecacatan dalam redaksi hadis yang dinukil dalam shahih muslim tentang ayah Nabi saw yang masuk neraka, wajib mengembalikannya kepada Al-Qur'an, yang nantinya kita akan mendapatkan ayat yang berbunyi Qs. 17:1 

"…dan kami tidak akan menyiksa dan menghukumi suatu kaum sampai kami mengutus seorang rasul kepada kaum tersebut" 

Ayat diatas menyatakan bahwa Allah swt tidak akan menghukumi suatu kaum kecuali setelah datangnya seorang rasul kepada kaum tersebut. 

Sekarang apa alasannya mereka menghukumi ayah Nabi saw mati dalam keadaan kafr sementara ketika itu Rasulullah saw belum menjadi rasul, bahkan belum dilahirkan. Lebih jelasnya kita lihat kitab selanjutnya: 

7. Tafsir Al-Thabari, karya Ibn Jarir Al-Thabari yang bermazhab Syafi’i, Jilid 8 Halaman 264. Terbitan Dar al-Fikr, Cetakan tahun 2005M/1425-1426H

Diriwayatkan dari Mujahid tentang firman Allah swt yang artinya: "Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berkata: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah) negeri yang aman dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala"

Mujahid berkata: Maka Allah kabulkan doa Ibrahim pada keturunannya dan TIDAK ADA YANG MENYEMBAH BERHALA dari keturunan Ibrahim setelah doanya tersebut.

Sementara itu kita mengetahui bahwa ayah Nabi saw adalah keturunan Nabi Ibrahim as bagaimana mungkin beliau dikatakan musyrik, sekarang mari kita lihat kwalitas atau keutamaan tafsir thabari dihadapan Ibn Taimiyah pada kitab selanjutnya.

8. Kitab Majmu’ al-Fatawa, karya ibn Taimiyyah yang bermazhab Hanbali, Jilid 7 Halaman 208, Terbitan Dar al-Hadis Kairo, Cetakan tahun 2006M/1427H

Ibn Taimiyah berkata: "Adapun paling shahihnya tafsir yang ada di tangan manusia adalah tafsir Muhammad bin Jarir At-Thobari, karena kitab tafsir tersebut menyebutkan perkataan-perkataan salaf dengan sanad yang kokoh, tidak ada bid'ah didalamnya, dan tidak pula menukil dari para perawi yang tertuduh..." 

Bantahan lain terhadap riwayat yang mengkafirkan kedua orang tua Nabi saw terdapat pada kitab selanjutnya.

9. Kitab Al-Dur al-Mantsur, karya As-Suyuthi yang bermazhab Syafi’i, jilid 6 Halaman 332, Terbitan Dar al-Fikr, cetakan tahun 1993

imam As-Suyuthi berkata: Ibn Abi Hatim, Ibn Mardawaih dan juga Abu Nuaim dalam kitabnya Dalail an Nubuwah telah mengeluarkan riwayat dari Ibn Abbas tentang firman Allah swt yang berbunyi: "Perobahan dan perpindahanmu diantara orang-orang yang sujud"

Ibn Abbas berkata dalam menafsirkan ayat ini: "Rasulullah saw senantiasa berpindah-pindah di sulbi para Nabi sampai beliau dilahirkan oleh ibunya".

Dari riwayat ini kita dapati bahwa tidak ada dari leluhur nabi saw melainkan mereka adalah orang-orang yang sujud kepada Allah swt. Oleh karena itu kita meyakininya bahwa ayah Nabi saw termasuk orang-orang yang bersujud kepada Allah swt. Bagaimana dapat dikatakan beliau kafir dan apa jawaban mereka nanti ketika berjumpa Rasulullah saw.

 Riwayat serupa juga dinukil oleh al-Ajuri dalam kitabnya: Al-Syariah, karya al Ajuri yang bermazhab Syafi'i, yang ditahqiq oleh Farid Abdul Aziz al-Jundi, Halaman 339, Terbitan Dar al-Hadis al-Qahirah, Cetakan tahun 2005 M/1426 H.

Muhaqiq Farid Abdul Aziz al-Jundi berkata: "Sa'dan bin al-Walid (salah satu perawi didalam kitab Durul Mantsur diatas tadi) aku tidak menemukan ulama yang menulis biografinya sedangkan para perawi lainnya terpercaya".

 Namun ternyata nama Sa'dan tersebut terdapat dalam kitab Mustadrak karya al-Hakim pada bagian selanjutnya

10. Kitab Mustadrak karya al-Hakim yang bermazhab Imam Syafi’i, jilid 5 Halaman 32 Terbitan Dar al-Fikr, Cetakan pertama Tahun 2001 M/1421 H

Telah meriwayatkan Sa'dan bin al-walid dari atha dari ibn Abbas …. Alhakim berkata: Sa'dan bin al-Walid al-bajali berasal dari kufah, hanya sedikit hadis yang dia riwayatkan dan bukhari muslim tidak meriwayatkan hadis darinya". Imam dzahabi menukil hadis ini dalam kitab talkhis al-mustadrak dan dia berkata: "al-Hasan bin basyar al-bajali mendengar hadis dari Sa'dan bin alwalid al bajali yang mana Sa'dan bin al walid berasal dari kufah..."

Ternyata sosok Sa'dan itu ada dan bukan fiktif.

11. Kitab Mawahibul Laduniyyah, Karya Al-Qostholaniy yang bermazhab Syafi’i, jilid 1 Halaman 85, Terbitan Al-Maktab Al-Islami, Cetakan Kedelapan 8, Tahun

Al Qostholani berkata: "Allah swt telah mensucikan nasab (silsilah keluarga) yang mulia ini dari perzinahan di zaman jahiliyah, sebagaimana sabda beliau saw didalam hadis-hadis yang dapat diterima. Ibn Abbas berkata (yang mana riwayat ini dinukil oleh al-Baihaqi dalam sunannya): Rasulullah saw bersabda: "Aku tidak pernah dilahirkan dari perzinahan jahiliyah sama sekali, aku tidak dilahirkan melainkan melalui PERNIKAHAN ISLAM".

Perlu diketahui bahwa Islam disini bukan hanya Islam secara syariat tetapi yang dimaksud Rasulullah saw adalah bahwa kedua orang tua beliau adalah orang-orang yang shaleh yang berada di atas syariat agama Allah swt, nasab Rasulullah saw adalah Nasab Yang Suci.

12. Kitab Musnad Ahmad Karya Imam Ahmad bin Hanbal, Tahqiq Ahmad Muhammad Syakir, Jilid 2 Halaman 231-232, hadis nomor 1788, Terbitan Dar Hadis Kairo, Cet

Abbas berkata: "telah sampai kepada Rasulullah saw sebahagian dari apa yang dikatakan oleh orang-orang, lalu Nabi saw menaiki mimbar seraya bersabda: siapakah aku ini? Mereka menjawab: engkau adalah Rasulullah (utusan Allah). kemudian beliau saw bersabda: aku adalah Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib, sesungguhnya Allah menciptakan makhluk dan menjadikanku sebaik-baik makhluk-Nya. Allah membagi para makhluk-Nya menjadi dua kelompok kemudian Allah menjadikan aku di kelompok yang terbaik. Allah menciptakan suku-suku dan menjadikan aku di suku yang terbaik. Allah menjadikan bagi mereka rumah-rumah (keluarga) dan Allah menjadikan aku di keluarga yang terbaik, maka aku dari keluarga yang terbaik dan jiwa yang terbaik".

Muhammad Syakir berkata: "Sanad (jalur periwayatan) hadis ini Shahih".

Dari hadis nabi ini kita ambil kesimpulan: Pertama: apakah mungkin orang tua Nabi saw dikatakan kafir sementara beliau saw sendiri yang menyatakan bahwa keluarga beliau adalah sebaik-baiknya keluarga

Kedua: apa manfaat dari pernyataan Rasulullah saw "bahwa aku adalah putra Abdullah", jika dibalik itu ayah beliau seorang yang kafir. sementara ketika nabi menjelaskan kepada para sahabat tidak lain ingin menunjukkan pada mereka akan kemuliaan nasab beliau. 

13. Kitab Tafsir Al-Qur’an Al-Azhim Karya Ibn Abil Hatim yang bermazhab Syafi’i, Jilid 1 Hal. 14 dan Jilid 9 Hal. 2997, Terbitan Dar al-Fikr, Cetakan Tahu

Jilid 1, Halaman 14:

Dalam Mukadimah kitab ini. Ibn Abil Hatim berkata: "Sekelompok dari saudara-saudaraku memintaku untuk mengeluarkan tafsir al-Quran secara ringkas dengan sanad sanad yang shahih…, maka aku meneliti mengeluarkan tafsir tersebut dengan sanad yang shahih"

Jilid 9 Halaman 2997:

Dalam menafsirkan surat Al Qosos (28) ayat 59 "Kami tidak akan membinasakan suatu negeri sampai mengutus kepada penduduk negeri tersebut seorang rasul…" Diriwayatkan dari Qotadah: "dan Ummul Qura adalah Mekkah, Allah swt mengutus kepada mereka (Penghuni Mekah) seorang Rasul yaitu Muhammad saw" 

Disini jelas bahwa orang tua Nabi saw termasuk ahlul Fatrah (yaitu masa kekosongan seorang nabi dan rasul). Sehingga dengan alasan apa beliau masuk neraka padahal ayat yang dibacakan diatas tadi sangat jelas bahwa suatu kaum tidak akan disiksa jika belum datang pada mereka seorang rasul. Dan anehnya, metode pengembalian riwayat kepada Al-Qur'an, juga disepakati oleh Utsaimin. 

14. Kitab Syarah Riyadh al-Shalihiin, karya al-Nawawi yang bermazhab syafi’i, dan disyarah oleh Ut saimin seorang ulama Wahabi, jilid 4 Halaman 409, Terbi

Setelah menukil riwayat pada shahih Muslim jilid 2 halaman 621 pada bab. Ibtidaul khalqi (awal penciptaan makhluk) bahwa Allah menciptakan tanah pada hari sabtu ….dst.

Utsaimin berkata: "Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dimana para ulama TELAH MENGINGKARINYA, maka hadis tersebut TIDAK SHAHIH dan tidak benar berasal dari Nabi saw, karena BERTENTANGAN DENGAN AL-QUR'AN AL-KARIM. Karena apapun yang bertentangan dengan al-Quran al-Karim maka hal tersebut BATIL".

Poin terpenting disini adalah pernyataannya Utsaimin dalam penolakannya terhadap salah satu riwayat di shahih Muslim karena bertentangan dengan al-Quran. Namun anehnya mengapa riwayat yang menyatakan ayah Nabi saw di neraka sementara hal tersebut bertentangan dengan al-Quran masih tetap diterima.